Yah, seperti inilah kondisi negara Indonesia. Masyarakatnya masih 'latah' dengan hal-hal yang diimpor dari mancanegara terutama dari negara-negara barat. hmm.. mungkin anda atau mungkin saya sendiri bertanya-tanya. Kenapa di pagi-pagi buta seperti ini saya menulis catatan di Blog ini? yang jelas saya mencoba untuk menguraikan kegalauan saya ke dalam bentuk tulisan yang merupakan hasil pemikiran saya dengan beberapa sumber referensi yang mendukung artikel saya ini. Artikel kali ini saya mencoba untuk membahas tentang Hari Ibu. Seringkali ada anekdot kenapa tidak ada Hari Bapak? atau mungkin Hari Anak saja sekalian? Oops... sebagai seorang muslim saya serta merta berpikiran, agaknya ini adalah sebuah bentuk penyesatan yang dibuat dengan kemasan yang cukup cantik dan kita tidak menyadarinya secara langsung bahwa ini salah satu bentuk penyesatan yang nyata. Ketika digabungkan ada Hari Ibu, Hari Bapak dan Hari Anak maka akan berhubungan dengan konsep Trinitas yang dibawa oleh banyak agama pagan di dunia ini termasuk Yahudi dan Nasrani. Baik, mari coba kita lihat sejarah darimanakah asal hari Ibu ini dimulai. Kamis, 22 Desember 2011
Hari Ibu, Ucapan selamat untuk siapa?
Yah, seperti inilah kondisi negara Indonesia. Masyarakatnya masih 'latah' dengan hal-hal yang diimpor dari mancanegara terutama dari negara-negara barat. hmm.. mungkin anda atau mungkin saya sendiri bertanya-tanya. Kenapa di pagi-pagi buta seperti ini saya menulis catatan di Blog ini? yang jelas saya mencoba untuk menguraikan kegalauan saya ke dalam bentuk tulisan yang merupakan hasil pemikiran saya dengan beberapa sumber referensi yang mendukung artikel saya ini. Artikel kali ini saya mencoba untuk membahas tentang Hari Ibu. Seringkali ada anekdot kenapa tidak ada Hari Bapak? atau mungkin Hari Anak saja sekalian? Oops... sebagai seorang muslim saya serta merta berpikiran, agaknya ini adalah sebuah bentuk penyesatan yang dibuat dengan kemasan yang cukup cantik dan kita tidak menyadarinya secara langsung bahwa ini salah satu bentuk penyesatan yang nyata. Ketika digabungkan ada Hari Ibu, Hari Bapak dan Hari Anak maka akan berhubungan dengan konsep Trinitas yang dibawa oleh banyak agama pagan di dunia ini termasuk Yahudi dan Nasrani. Baik, mari coba kita lihat sejarah darimanakah asal hari Ibu ini dimulai. Jumat, 02 Desember 2011
Bersin dan Menguap
Rasulullah bersabda:عن أبي هريرة رضي الله تعالى عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: (( إن الله يحب العطاس ويكره التثاؤب، فإذا عطس فحمد الله فحق على كل مسلم سمعه أن يشمته، وأما التثاؤب فإنما هو من الشيطان فليرده ما استطاع، فإذا قال: ها، ضحك منه الشيطان )) صحيح البخاري في الأدب 6223
Dari Abu Hurairah radhiyallahu ta’alaa anhu, Rasulullah bersabda, “Sungguh Allah mencintai orang yang bersin dan membenci orang yang menguap, maka jika kalian bersin maka pujilah Allah, maka setiap orang yang mendengar pujian itu untuk menjawabnya; adapun menguap, maka itu dari syaitan, maka lawanlah itu sekuat tenagamu. Dan apabil seseorang menguap dan terdengar bunyi: Aaaa, maka syaitan pun tertawa karenanya”. Shahih Bukhari, 6223.
Imam Ibn Hajar berkata, “Imam Al-Khathabi mengatakan bahwa makna cinta dan benci pada hadits di atas dikembalikan kepada sebab yang termaktub dalam hadits itu. Yaitu bahwa bersin terjadi karena badan yang kering dan pori-pori kulit terbuka, dan tidak tercapainya rasa kenyang. Ini berbeda dengan orang yang menguap. Menguap terjadi karena badan yang kekenyangan, dan badan terasa berat untuk beraktivitas, hal ini karena banyaknya makan . Bersin bisa menggerakkan orang untuk bisa beribadah, sedangkan menguap menjadikan orang itu malas (Fath-hul Baari: 10/6077)
Ketika Hasan Al Banna Menolak Sistem Parlementer
Senin 28/11/2011, sebagian Warga Mesir terlihat mulai berduyun-duyun
mengantri di sejumlah tempat pemungutan suara (TPS). Mereka berbaris
untuk memberikan suaranya dalam pemilu pertama sejak revolusi Mesir
sekaligus membuka jalan demokrasi di negara Arab yang berpopulasi
penduduk terbanyak.
Sepuluh bulan setelah berakhirnya kekuasaan rezim Mubarak selama 30 tahun akibat desakan demonstrasi dalam Revolusi Arab, sekitar 40 juta penduduk Mesir terdaftar dalam pemilu untuk memilih anggota parlemen. Namun akankah dengan Sistem Parlementer (Demokrasi), kelak Mesir akan tegak berdiri dalam kejayaan cahaya Islam?
Selepas Perang Dunia I, paham berhaluan Barat melakukan penetrasi cukup hebat di Mesir. Kebangkitan nasionalisme di Dunia Islam mencapai puncaknya dengan penggulingan sistem Khilafah Islam Utsmaniyah di Turki oleh Kamal Attaturk. Fenomena ini berlangsung ketika Hasan Al Banna tengah belajar di Darul Ulum. Di dalam catatannya, ia mengekspresikan kebimbangannya,
“Hanya Allah yang mengetahui sudah berapa malam kami berbincang-bincang mengenai kondisi negara dan hubungannya dengan segenap lapangan hidup rakyat, apa dampak dari penyakit masyarakat dan bagaimana mengatasinya. Kami berbincang dengan penuh perasaan hingga meneteskan air mata. Sebelum mengambil satu keputusan, kami berbicara panjang lebar. Namun, alangkah terkejutnya kami ketika membandingkan keadaan ini dengan mereka yang tidak memikirkannya sama sekali, dan justru asyik bersenang-senang di kedai kopi.” (The Moslem Brethren, Ishak Musa Husaini)
Sepuluh bulan setelah berakhirnya kekuasaan rezim Mubarak selama 30 tahun akibat desakan demonstrasi dalam Revolusi Arab, sekitar 40 juta penduduk Mesir terdaftar dalam pemilu untuk memilih anggota parlemen. Namun akankah dengan Sistem Parlementer (Demokrasi), kelak Mesir akan tegak berdiri dalam kejayaan cahaya Islam?
Selepas Perang Dunia I, paham berhaluan Barat melakukan penetrasi cukup hebat di Mesir. Kebangkitan nasionalisme di Dunia Islam mencapai puncaknya dengan penggulingan sistem Khilafah Islam Utsmaniyah di Turki oleh Kamal Attaturk. Fenomena ini berlangsung ketika Hasan Al Banna tengah belajar di Darul Ulum. Di dalam catatannya, ia mengekspresikan kebimbangannya,
“Hanya Allah yang mengetahui sudah berapa malam kami berbincang-bincang mengenai kondisi negara dan hubungannya dengan segenap lapangan hidup rakyat, apa dampak dari penyakit masyarakat dan bagaimana mengatasinya. Kami berbincang dengan penuh perasaan hingga meneteskan air mata. Sebelum mengambil satu keputusan, kami berbicara panjang lebar. Namun, alangkah terkejutnya kami ketika membandingkan keadaan ini dengan mereka yang tidak memikirkannya sama sekali, dan justru asyik bersenang-senang di kedai kopi.” (The Moslem Brethren, Ishak Musa Husaini)
Langganan:
Postingan (Atom)
