Senin, 31 Oktober 2011

Wahai kau para bapak polisi!

Seperti biasa polisi "Indonesia" menjadi perbincangan sehari-hari para rakyat di negeri ini. Tidak seperti polisi India yang datang terlambat ketika bajingan sudah kabur dari tempat kejadian perkara. Polisi Indonesia yang selalu menjadi perbincangan hangat ini menyoal tentang Lalu lintas. Ya, kali ini saya akan bercerita sedikit tentang Polisi yang satu ini. Polantas alias Polisi Lalu Lintas.

Hari Sabtu yang Lucu... (29 Oktober 2011)
Pagi itu, saya dan beberapa teman saya hendak pergi untuk menjenguk teman saya yang sakit di kampung halamannya. Kami berangkat menggunakan mobil dengan penumpang yang cukup penuh. Hingga di sekitar daerah bumiayu. Kami dihentikan oleh sekelompok bapak polisi yang sedang bertugas.
Pak Polisi : Selamat Pagi Mas, bisa lihat surat-suratnya
Teman saya (sebut saja Lintang, /nama samaran.red): Ini pak. (sambil menunjukkan SIM dan STNK)
Pak Polisi : Dari mana mau kemana mas?
Lintang : Dari Purwokerto mau ke Indramayu pak.
Pak Polisi : Masnya ini sama siapa saja di dalam mobil?
Lintang : ini saya dan teman kuliah saya pak.
Pak Polisi : mau kemana kalian? (sambil melihat-lihat penumpang dalam mobil)
Lintang : Jenguk teman saya pak yang sedang sakit.
Pak Polisi : Benar ini teman-teman kalian?
Lintang : Iya Pak.

Jumat, 28 Oktober 2011

Renungkan ini wahai pemuda!


Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe bertoempah darah jang satoe, tanah Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mengakoe berbangsa jang satoe, bangsa Indonesia.
Kami poetera dan poeteri Indonesia, mendjoendjoeng bahasa persatoean, bahasa Indonesia.

Begitulah kata-kata yang didengungkan pada tanggal 28 Oktober 1928 oleh para pemuda yang hadir dalam Kongres Pemuda Indonesia kedua yang dihadiri oleh para pemuda dari berbagai entitas yang berasal dari seantero nusantara ini. Mereka membawa misi yang sama yaitu untuk sebuah kemerdekaan bagi bangsa yang pada saat itu masih terjajah, Bangsa Indonesia.

Revolusi Jalan Kaki

Revolusi, kata-kata ini saya kenal pertama kali pada saat duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) mata pelajaran sosiologi. Pada mata pelajaran tersebut diperkenalkan dua istilah yang pada saat itu masih asing di telingaku. Istilah pertama adalah evolusi yang dapat diartikan dengan perubahan secara lambat dicontohkan dengan teori evolusi darwin dan Istilah yang kedua yaitu revolusi yang dapat diartikan dengan perubahan secara cepat yang dapat menimbulkan gesekan nilai-nilai sosial sehingga revolusi dapat merubah seluruh aspek kehidupan dengan pesatnya hal ini dicontohkan dengan revolusi industri di inggris dan perancis.

Butuh sebuah solusi
Ditengah problematika bangsa nan kompleks ini, bangsa ini butuh solusi tepat dan konkrit untuk mengatasinya. Segala macam krisis multidimensi perlahan mulai diperbaiki. Akan tetapi, pemerintah masih punya banyak pekerjaan rumah yang harus diselesaikan. Permasalahan ekonomi, pendidikan, kemapanan energi dan pangan serta krisis kepemimpinan hingga konflik antar pemeluk agama masih menghiasi dinding-dinding headline surat kabar cetak maupun elektronik disetiap harinya. Televisi yang menyediakan kabar dan berita yang subjektif semakin memperparah kondisi psikis rakyat kecil yang hanya bisa berpangku tangan dan menaruh harapan kepada generasi pembaharu nanti.